Rabu, 02 September 2009

KELUARGA BAHAGIA

Keluarga merupakan tempat dimana seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya dan menjadi fondasi dari terbentuknya kepribadian seseorang. Oleh karena itu setiap orang  baik anak maupun orang tua mendambakan kebahagiaan di dalam keluarganya. Keluarga diharapkan menjadi tempat yang paling aman, nyaman dan tentram bagi setiap anggota keluarga. 

Meskipun kebahagiaan di dalam keluarga bersifat sangat subyektif bagi setiap orang, namun ada beberapa faktor yang dapat mendukung tercapainya kebahagiaan di dalam keluarga, yaitu:

 

1.     Saling menghargai  

Adanya rasa saling menghargai diantara sesama anggota keluarga menumbuhkan rasa penerimaan dan penghargaan di dalam keluarga bagi setiap anggota. Dengan saling menghargai, setiap anggota memberikan kesempatan bagi anggota lainnya untuk mengemukakan pendapat, menyatakan keinginan, dan berekspresi. Bentuk perilaku saling menghargai sangatlah bermacam-macam, diantaranya orang tua harus mendengar dan memberikan anak kesempatan untuk menyatakan keinginannya dan pendapatnya. Sebaliknya anak harus menghargai peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh orang tua. Selain itu, saling menghargai juga bisa ditunjukan dengan sikap kepada masing-masing anggota. Contoh hormat kepada orang tua dan kerukunan diantara saudara.

2.     Umpan balik positif

Setiap orang membutuhkan umpan balik positif dari orang lain akan apa yang telah dilakukannya. Umpan balik positif berfungsi untuk memotivasi seseorang dan meningkatkan kepercayaan diri. Keluarga yang berfungsi sebagai fondasi merupakan tempat yang paling utama bagi anak untuk mendapatkan umpan balik positif. Umpan balik positif dapat berbentuk atensi yang positif  seperti pujian, perhatian, maupun bentuk apresiasi lainnya seperti pemberian reward.  Berilah umpan balik positif khususnya kepada anak akan hal-hal positif yang telah dilakukannya, dengan begitu anak akan merasa disayang, diterima dan didukung oleh keluarganya.

3.     Komitmen

Untuk menjadikan sebuah keluarga yang bahagia diperlukan komitmen dari masing-masing anggota untuk saling mengutamakan keluarganya. Keluarga harus disepakati menjadi hal yang paling utama untuk diperhatikan. Dengan begitu, apabila salah satu pihak membutuhkan bantuan selalu akan ada anggota kelurga lainnya yang siap membantu dalam keadaan apapun. Apabila setiap anggota memiliki komitmen yang sama maka konflik keluarga akan mudah untuk ditanggulangi dan keutuhan keluarga menjadi semakin kuat.

 

4.     Komunikasi terbuka sangat diperlukan bagi sesama anggota untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain.. Orang yang merasa dapat mengkomunikasikan apapun kepada keluarganya akan merasa lebih nyaman dan tidak membutuhkan pelarian lain di luar  lingkungan keluarganya. Sebaliknya,orang yang tidak bisa terbuka dihadapan keluarganya akan mengutamakan lingkungan lain sebagai sarana berkomunikasi. Karenanya komunikasi yang terbuka harus diiringi pula oleh penghargaan dari anggota lainnya agar keterbukaan diantara sesama tetap terjaga.

5.     Pola asuh Demokratis

Berdasarkan penelitian pola asuh yang paling baik adalah pola asuh yang bersifat demokratis. Dalam hal ini setiap angoota diberikan kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Peraturan yang diberikan oleh orang tua pun merupakan persetujuan bersama.  Anak harus diberikan penjelasan akan segala peraturan yang diterapkan, sehingga tidak terjadi komunikasi satu arah.

6.     Quality time

Setiap keluarga harus menyisihkan waktu untuk berkumpul bersama. Berkumpul bersama tidak dilihat dalam kuantitas melainkan kualitas. Meskipun frekuensi perkumpulan tidak rutin namun apabila berkualitas dapat sangat membantu untuk mengakrabkan dan mengenal satu sama lain. Berkumpul bersama dapat dilakukan dalam konteks yang menyenangkan sehingga setiap anggota termotivasi untuk menyisihkan waktunya bersama keluarganya, seperti makan malam dan rekreasi bersama. Adanya Quality time merupakan saat yang tepat bagi anggota keluarga untuk saling berbagi pengalaman dan meminta opini.

7.     Beri Privasi

Setiap orang membutuhkan waktu  atau saat-saat pribadi. Setiap anggota diharapkan untuk dapat memberikan waktu privasi bagi anggota lainnya. Dengan adanya  waktu privasi setiap anggota akan merasa nyaman karena dapat melakukan hal-hal yang dinginkannya sekaligus mendapatkan dukungan dari anggota keluarga lainnya . Contohnya, orang tua memberikan waktu bagi anak untuk melakukan hobby-nya dan menghabiskan waktu dikamarnya, sebaliknya anak memberikan waktu bagi orang tua yang sedang bekerja ataupun dalam konflik.

8.     Menerima setiap anggota keluarga apa adanya

Setiap orangg memiliki kelebihan dan kekurangan. Keluarga sebaiknya menjadi pihak yang dapat menerima anggota keluarga apa adanya.  Dengan menerima kekurangan dan menghargai kelebihan anggota keluarga, maka secara tidak langsung mereka menghargai dan meningkatkan rasa percaya diri masing-masing anggota. 


Regards, 


STAFF WEB KONSELING

1 komentar:

Erwin mengatakan...

Saya sangat setuju dengan artikel diatas. Tapi klo boleh sya tnya, bagaimana cara untuk memulainya? Atau bahkan memperbaiki situasi yang ada menjadi seperti artikel diatas?
Terimakasih.