Selasa, 02 Oktober 2012

MENYIMPAN DENDAM, Baik atau Tidak ??



Kejadian yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan bisa saja menimpa siapapun dan terjadi kapanpun. Kejadian seperti dikhianati, disakiti, dimanfaatkan, dihancurkan, dan diremehkan oleh orang lain, merupakan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan namun seringkali tidak bisa dihindari. Kejadian tersebut pada sebagian besar orang pada akhirnya menimbulkan perasaan dendam pada orang yang terkait.

Wajarkah kita memiliki dendam pada orang lain ?

Wajarkah jika kita ingin membalaskan dendam kita pada orang lain ?

Tentu sangat wajar, karena tidak ada seorangpun didunia ini yang ingin disakiti dan dilukai hatinya. Apa sebenarnya dendam ? Dendam merupakan perasaan marah, dan terluka yang tersimpan yang ditujukan pada orang tertentu yang telah menyakiti hatinya. Dendam muncul ketika seseorang tidak mampu melampiaskan perasaan marah dan emosi negatifnya secara langsung pada orang yang bersangkutan. Bisa disebut juga sebagai perasaan ketidak mampuan seseorang untuk mengatasi masalahnya secara langsung.

Permasalahannya apakah dengan membalaskan dendam maka masalah selesai ? Belum tentu.
Dari mana sebenarnya asalnya dendam? Seringkali kita berpikir bahwa ketika kita dendam pada seseorang, itu karena orang tersebut telah menyakiti kita, sehingga munculah perasaan marah pada orang tersebut. Tetapi, apakah rasa marah tersebut 100 % kita arahkan pada orang tersebut ? Belum tentu. Karena sebenarnya sebagian besar marah itu kita arahkan kepada diri sendiri.

“marah karena membiarkan hal tersebut terjadi”
“marah karena gagal melindungi diri”
“marah karena memandang diri tidak berguna “
“marah karena dengan mudahnya disakiti orang lain”
“marah karena harga diri yang terinjak”
dll

Ada perasaan marah dan tidak terima pada diri sendiri sehingga memunculkan kemarahan yang ingin dilampiaskan pada orang lain.  Namun ketidak mampuan kita untuk marah pada diri sendiri kita proyeksikan melalui marah pada orang lain yang menjadikan kita dendam pada orang itu. Dan kita berpikir bahwa ketika dendam sudah terbalaskan maka rasa marah pada diri tersebut akan terbawa hilang.

Ketika dendam sudah terbalaskan  namun tidak juga merasa puas, ataupun dendam tidak bisa hilang dari diri kita, maka kemungkinan besar rasa marah terhadap diri sendiri masih sangat besar dan belum hilang. Semakin marah seseorang pada dirinya sendiri maka semakin dendam ia pada orang yang berbuat negatif padanya.

Cth :
Bella dikhianati pacar, karena pacar memiliki orang ketiga. Kejadian tesebut membuat Bela merasa diremehkan, tidak dihargai dan tidak dianggap oleh pacarnya.
Ketika Bella dendam pada pacarnya, belum tentu 100 % rasa marah diarahkan ke pacarnya. Justru Bella marah pada diri sendiri karena merasa gagal dalam melindungi hubungannya, merasa orang yang tidak berharga. Ini menimbukan rasa marah yang sangat besar pada dirinya sendiri yang dipicu oleh pacarnya.


Lantas, bagaimanakah baiknya dalam mengatasi dendam ?

1. Evaluasi arti untuk diri sendiri

Bila kejadian buruk menimpa segera evaluasi artinya untuk diri kita sendiri, karena arti tersebutlah yang membuat diri kita penuh dengan rasa dendam. Cek arti negatif apa yang sebenarnya kita berikan pada diri sendiri dari kejadian tersebut. Pikiran negatif ke diri sendiri apa yang tersentuh / terangkat dengan adanya peristiwa tersebut.
Jika sudah menemukannya, cobalah untuk melihat diri sendiri dengan lebih positif dan obyektif. Jangan kaitkan peristiwa negatif yang terjadi dengan menilai diri sendiri negatif juga. Pisahkan antara tindakan negatif orang lain dengan pikiran negatif terhadap diri sendiri. Dengan demikian, kita akan dapat melihat dan menilai masalah secara lebih obyektif dan mengandalkan logika kita dalam menyelesaikan masalah ketimbang emosi.

2. Penerimaan diri

Bagaimanapun juga dendam membuat hidup kita menjadi tidak nyaman,tidak damai, penuh rasa marah dan juga tidak bahagia. Bila kita bisa lebih menerima diri kita apa adanya dalam keadaan apapun (baik itu ketika disakiti ataupun dikhianati orang lain), maka rasa damai kita tidak akan terusik oleh sikap buruk orang lain pada kita.

Bila kita telah melakukan balas dendam, maka harga diri kita akan naik. Ada perasaan puas, lega, merasa lebih. Akan tetapi bisakah harga diri dinaikkan tanpa harus melakukan balas dendam ? Tentu Bisa. Ini bisa dilakukan dengan cara berusaha untuk lebih menghargai diri sendiri, tidak menutut diri sendiri, memaafkan diri sendiri dan tidak menghakimi diri sendiri.

2. Berpikir untung dan rugi

Sebelum berniat untuk membalas dendam, pikirkan dahulu apa untung dan ruginya untuk kita. Bila ternyata lebih banyak ruginya, masih pantaskah dilakukan, hanya demi kepuasaan sesaat ?
Pikirkan dampaknya tidak hanya untuk jangka pendek, namun juga jangka panjangnya. Jangan sampai menyesal dikemudian hari. Meskipun emosi saat ini terasa meledak-ledak, tapi tetaplah mengutamakan logika dalam menentukan keputusan. Karena apapun keputusan kita pasti akan memberikan dampak untuk kedepannya.

3. Fokus pada apa yang lebih baik untuk diri sendiri

Ketimbang hidup hanya dihabiskan untuk mencari cara balas dendam, alangkah baiknya bila fokus untuk menjadikan segala keadaan dan disituasi disekitar kita menjadi lebih baik. Memulihkan diri sendiri atas peristiwa negatif lebih baik ketimbang memenuhi diri dengan rasa marah dan balas dendam.

Fokus untuk mencari target-target pribadi untuk dicapai. Misalnya, bisnis ditipu orang lain. Baiknya adalah fokus untuk mencari cara membangkitkan bisnis kembali dan memikirkan tindakan-tindakan preventif untuk kedepannya, daripada membuang waktu untuk mencari cara-cara balas dendam pada orang yang menipu kita.

5. Membalas dendam dengan lebih elegan

Ada cara-cara lain untuk balas dendam yang lebih elegan dan signifikan. Tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, penghianatan dengan penghianatan, penipuan dengan menipu, tetapi membalas dendam dengan menunjukan diri sebagai pribadi yang lebih baik dari pada orang yang menyakiti kita.
Kalaupun mau membalas dendam pastikan balas dendam itu juga membuahkan hasil positif untuk diri kita sendiri. Misalkan, bisnis ditipu, balas dendam lah dengan cara memajukan bisnis lebih baik dari orang yang menipu. Dikhianati pacar, balas dendamlah dengan cara mencari orang lain yang jauh lebih baik dari yang mengkhianati kita.

Biarkan orang lain yang punya sikap buruk. Jangan buat diri kita menjadi pribadi yang buruk juga karena orang lain.

6. Mengambil hikmah

Pasti selalu ada pelajaran berharga dibalik kejadian negatif yang menimpa kita. Ambil peristiwa tersebut sebagai pelajaran bukan sebagai hukuman untuk kita. Tanpa adanya peristiwa negatif, maka kita tidak akan belajar untuk bisa menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. 


Semoga Bermanfaat !!!

Tara de Thouars, BA, M.Psi

Webkonseling Staff

9 komentar:

Ace Maxs mengatakan...

artikel yang sangat apik , saya harus belajar banyak ke anda, bisa kah anda mengunjungi blog saya untuk belajar lebih lanjut ??

Widodo HP mengatakan...

Bagus artikelnya.... yang lain pasti sepakat juga kan.....?!?!? Insya Allah...

Yayu Daulati binti Hasan Basri mengatakan...

saya sepakat... ^_^
mampirlah juga keblog saya...
...beri saya kritikan

join with me juga ya...

Obat Kanker Hati mengatakan...

salam kenal mas bro, minta backlinknya ya :D, saya tunggu kunjungan baliknya :D

Terapi mengatakan...

Hi, This website is very good. Thanks.

Anonim mengatakan...

Good web

Abdul_Azis mengatakan...

Makasih ya,Gan.berkan artikel ini terbuka pikiran Gw...Nice info,Thanks

Obat Kelenjar Tiroid mengatakan...

Salam kenal sukses selalu, di tunggu update yang terbarunya, jangan lupa kunjungi balik ya :D

Jogi Takhur mengatakan...

marah saya ini tidak yang seperti anda kira, dia sudah menghianati saya dan prinsipnya