Sabtu, 04 Agustus 2012

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI



Saya ingin seperti dia?
Mengapa dia kaya saya tidak ?
Mengapa dia lebih menarik?
Saya ingin sepintar dia ?
Dia orang yang sangat beruntung saya tidak ?
Andaikan saya jadi dia….?
Nasib saya mengapa tidak sebaik dia ?

Pernahkan anda mengucapkan kalimat-kalimat diatas ? Mungkin sebagian besar dari anda menjawab Ya. Sebagai manusia yang normal, wajar apabila kita memiliki keinginan dan harapan. Tentunya keinginan dan harapan tersebut akan tercipta karena kita biasanya membandingkan diri kita dengan orang –orang disekitar kita. Namun, membanding-bandingkan diri dengan orang lain apakah sehat ? Bisa Ya, bisa juga Tidak. Akan menjadi Ya, bila perbandingan kita pergunakan untuk memicu semangat dan motivasi kita untuk menjadi lebih baik seperti orang lain. Namun akan menjadi Tidak, bila perbandingan tersebut pada akhirnya membuat kita stress, tidak menerima diri kita apa adanya dan juga menjadi tertekan.
Stress dan rasa tertekan pada akhirnya akan muncul bila apa yang menurut kita IDEAL tidak sesuai dengan REALITA. Dan semakin besar perbedaan antara ideal dan relita, maka akan semakin besar pula konflik dan perasaan tertekan yang kita rasakan.

Contoh:
IDEAL : Berat badan 45
REALITA : Berat badan saat ini 100

IDEAL : Kaya raya
REALITA : Pas-pasan

IDEAL : IQ 130
REALITA : 90

Lantas apa yang akan terjadi bila konflik dan perasaan tertekan tersebut sangat besar? Biasanya timbulah perasaan iri, tidak puas, tidak menerima diri sendiri, benci pada diri dan lingkungan, marah pada diri sendiri ataupun Tuhan. Semua perasan tersebut adalah perasaan KETIDAKDAMAIAN.
Jadi apa yang harus kita lakukan agar kita bisa DAMAI dengan diri sendiri? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk kita bisa berdamai dengan diri sendiri, diantaranya :

1.     Memperkecil GAP antara IDEAL VS REALITA
Bila kita tahu bahwa realita sangat jauh dengan ideal kita, maka, cobalah untuk memperkecil perbedaan (gap) tersebut dengan memodifikasi apa yang menjadi ideal dan bergerak untuk merubah realita. Memiliki ideal sangat baik, namun apabila ideal tersebut terlalu berlebihan, sulit untuk diraih dan membuat stress, maka baiknya kita turunkan apa yang menjadi ideal kita. Misalnya, tidak harus kaya tapi berkecukupan atau tidak harus cantik namun bersih dan menarik.
Disisi lain, jangan hanya menunggu realita untuk berubah namun harus ada USAHA juga dari kita untuk merubahnya. Jika kita hanya pasrah menunggu realita berubah mau sampai kapan. Bergeraklah dan mengusahakan berbagai macam cara agar realita pun berubah mendekati ideal. Misalnya, jika ingin pintar berusaha untuk belajar, jika ingin kurus berdiet, jika ingin cantik berusaha merawat diri.
Ada istilah yang mengatakan bahwa buatlah target setinggi mungkin, carilah idealisme setinggi mungkin. Saya setuju sekali. Namun, apa yang menjadi target dan ideal juga harus realistis. Kalau memang apa yang menjadi ideal tidak membuat kita stress dan tertekan, berarti tidak masalah. Tetapi kalau ideal yang kita tentukan malah membuat stress, berarti ada yang salah (tidak tepat). Buat apa menentukan sesuatu yang kita pun tahu tidak mungkin tercapai atau teraih. Bukankah lebih baik bila idealnya juga disesuaikan dengan realitas yang ada. Tujuannya agar kita lebih damai dan happy dalam mengejar ideal tersebut.

2.     Bersyukur
Cobalah untuk mensyukuri apa yang sudah menjadi milik kita. Daripada terus menerus menentang keadaan kita saat ini, lebih baik syukuri apa yang sudah diberikan dan dimiliki. Bagaimanapun juga setidak sempurnanya kita, pasti ada orang-orang lain yang lebih tidak seberuntung kita.

3.     Mencari kelebihan lainnya
Kalaupun memang hidup kita ada tidak sempurnanya, pasti kita juga memiliki kesempurnaan pada hal lainnya. Cari dan sadarilah bahwa tidak ada yang sempurna dan tidak ada yang tidak sempurna. Dalam hidup pasti ada ups and downs, baik dan buruk, beruntung dan tidak beruntung. Kalau memang dalam satu aspek kita tidak terlalu memuaskan pasti ada aspek lain dari diri kita yang juga baik. Misalnya, mungkin kita tidak kaya tapi kita pintar. Mungkin kita tidak cantik tapi kita menyenangkan.


Kesimpulannya, berdamai dengan diri sendiri harus dimulai dari diri sendiri. Jangan menunggu nasib, jangan menunggu hal-hal disekitar kita berubah. Tapi, rubahlah cara pandang kita agar kedamaian tersebut bisa tercipta.

Bila kita bisa berdamai dengan diri sendiri, maka kebahagiaan pasti akan tercapai dengan seketika.


Semoga Bermanfaat!

Tara de Thouars, BA,M.Psi

Webkonseling Staff

2 komentar:

Riski Wardani mengatakan...

Helpfull...

D.N. adit mengatakan...

salam kenal.
Saya punya masalah dengan kpribadian saya, terkadang saya sering mudah marah dan juga mempunyai perasaan ketakutan yg berlebihan terhadap sesuatu yg saya tida ketahui dan lebih parah saya sering punya perasaan tidak mau lagi bergaul dngn orang2 disekitar saya entahkah itu teman ataupun tetangga, saya selalu merasa mereka selalu menyindir saya, menjelekan saya, dll dan karena itu saya lebih suka menyendiri namun dalam batin saya, saya merasa kesepian, namun tak mampu bergerak karena terus dibayang2ngi pikiran negatif saya. Tolong..! saya minta solusinya atas segala permasalahan saya. Seblumnya terima kasih.